Kamis, 23 Oktober 2014

PANDANGAN PERTAMA BAHASA JERMAN

eins adalah kata pertama yang saya lihat, baca, dan ucap. Saat itu teman baru saya, sebut saja Ling-ling, dari Banyuwangi yang memperkenalkan kata tersebut. Tepatnya di depan ruang dosen Bahasa Jerman, T1 lantai 2, Universitas Negeri Surabaya, beberapa menit sebelum menunggu giliran tes lisan ujian masuk UNESA melalui jalur PMDK Prestasi tahun 2009.

Setelah cuap-cuap kesana-kemari mulai saling tanya nama, asal, sampai alasan mengapa ingin studi bahasa yang juga dipakai Gus Hitler. Kalau alasan saya, karena suka belajar bahasa sejak SD. Walaupun saya tidak sepaham saat mengambil jurusan di SMA dengan apa yang saya putuskan sekarang yaitu jurusan bahasa, saya tetap merasa bahagia bisa lanjut belajar bahasa. Sebenarnya ada ribuan bahasa yang siap untuk dipelajari di dunia ini. Tapi mengapa saya menjatuhkan pilihan di Bahasa Jerman? Nahhh itu, saya tidak tahu persisnya mengapa. Seakan takdir telah mengarahkan saya begitu saja -wuuush-. Rasanya itu seperti jatuh cinta yang kadang alasan mengapa kita cinta pun sulit untuk dideskripsikan, right? heheheh . . . ya kurang lebih seperti itulah sodara :D

Sempat beberapa guru SMA saya menyadarkan dengan susah payah.Mereka berkata, "Fit, kamu sudah yakin dengan pilihanmu? Ini hal baru untuk kamu Fit, bahkan Ibu yakin, letak negaranya di Globe saja kamu belum tahu. Kenapa ga masuk Biologi pelajaran favoritmu atau Matematika pelajaran yang nilai kamu bagus terus di sini" -koyo ditakoki milih pasangan hidup ae, wkwkwkwk- dengan lantang saya jawab, "Saya yakin, Bu. Mantap 100%".

Keyakinan itu yang harus selalu saya ingat bahwa saya harus menunjukkan kepada guru-guru SMA tercinta yang dulu sempat menasihati saya. 

Semester pertama terasa begitu asing, apa karena saya belajar bahasa asing ya? Bisa jadi, bisa jadi, hehe . . . Menurut saya belajar Bahasa Jerman itu menyenangkan. Walaupun bahasanya begitu matematis justru itu yang membuat saya tetap bertahan dan tidak bosan mempelajarinya. Selalu ada keunikan di dalamnya. Namun tetap saja ada Ausnahme di dalam kebahagiaan saya mempelajarinya, yaitu artikel der, die, das. Artikel itu sempat membuat saya suntuk. Over all, I still love them. 

Dan waktu 4 tahun pun berlalu dengan cepatnya.

Huraaaaa . . . saya sudah lulus dengan predikat yang akan membuat guru-guru SMA tercinta saya tersenyum bangga -hahahahah ngarep-

Menurut saya, hikmah yang dapat diambil dari perjuangan saya mulai daftar sampai lulus kuliah dengan major Bahasa Jerman adalah keyakinan itu sebagian dari keberhasilan.

Jadi, buat teman-teman yang sedang akan belajar atau studi Bahasa Jerman, jangan ragu memantapkan keyakinan kalian. Sei geiiisssst . . . . :D

 


0 komentar:

Posting Komentar